Pereda Nyeri

By aninditaibrahim - 12/31/2018 03:05:00 AM

Setelah tentang Sang Penyamar, yang kutulis sebelum post-an ini, rasanya ga adil kalau aku ga bahas tentang kamu,
Sang pereda nyeri.

Yang hadir di 5 tahun belakangan ini lewat "telfon dan chat", bersamaan dengan hadirnya "dia", sahabat yang sering kamu palakin, sahabatmu yang pernah hadir di hatiku; mantan.

Entah apa harus ku syukuri kehadiranmu di tengah-tengah hubunganku dengan "dia" dulu, atau justru harus ku sesali. Kamu membantu beban emosi sedikit teratasi, tapi membuatku justru lebih mempercayaimu daripada orang yang kucintai. 

Sampai akhirnya hubungan yang ga sehat itu berakhir, dan seperti biasa kamu memang slalu jadi satu-satunya tempat mengadu terbaik, karna hanya kamu yang bersedia mendengar suara "nyempreng" ini berjam-jam sambil nangis. Entah hanya perasaanku saja atau memang seperti itu(?), tapi ku sadari bahwa sejak itu kamu terlalu jujur tentang dirimu. Kamu mulai mengeluarkan kalimat mainstream laki-laki pada umumnya, berusaha menjadi "dia" yang terkenal dengan gaya nakalnya, disaat aku lagi benci dia setengah mati. 
Tapi aku mencoba menghargaimu, mengingat banyaknya bantuan berarti yang kamu berikan,
Membuatku percaya kalau kamu sungguh-sungguh seberusaha itu hanya untukku,
Membuatku seolah-olah spesial,
Lalu,
Aku berusaha membalas apa yang kamu beri,
Merespon sama seperti apa yang kamu ucap dan rasakan,
Aku mencoba mendengarkan, sama seperti apa yang kamu lakukan, 

Aku coba diri ini menyukai sesuatu yang tidak pernah aku suka, hanya semata-mata tidak ingin menyia-nyiakan orang yang melakukan hal yang sama kepadaku lebih awal. Seperti kata orang, "cintai orang yang mencintai kita".
Sudah ku coba lakukan untukmu pelan-pelan, seperti yang pernah ku katakan padamu, walau lupa ku sisipkan kata "pelan-pelan".

Lalu kucoba semuanya mengalir, semakin hari semakin dekat, kuteliti sikap, cara fikir, caramu menanggapi masalah, caramu mendengarku, merespon ucapanku, caramu menerima kekuranganku. Kucoba nilai dan pastikan apa kamu cukup pantas menggantikan "dia". Well.. semua tidak masalah. Sangat baik, jauh lebih baik dari apa yang "dia" lakukan. 
Tapi akhirnya kutemui pola, satu hal yang slalu buatku mual dan berbalik arah, yaitu caramu mengekspresikan perasaanmu kepadaku. 

Tapi,
aku berusaha mengenal kamu lagi. Mengulang-ulang kebaikanmu di fikiranku, tapi rasanya susah untuk hanya sekedar "mengiyakan" apa yang kamu mau. Waktu berjalan, dan semakin hari topik bicara kita kelewat batas. Semakin aku dekat kamu, semakin aku sadar kalau kamu bukan orang yang aku mau. Semakin deket aku sama kamu, semakin aku tersesat. Buat aku merasa berdosa dengan obrolan yang ku anggap itu sudah kelewat batas, karna beberapa perkataanmu buatku merasa ga dihargai. Sampai akhirnya aku merasa, kamu ga jauh beda dari "dia" . Baik, lalu coba kuabaikan tentang kemiripanmu tentangnya, kumaklumi tindakan "tidak spoan" mu. Lagi lagi ku paksa diri ini mengagumi sisi baikmu, tapi ternyata ga bisa. Aku memang selalu merengek-rengek ingin dicintai orang lain, tapi bukan orang yang "seperti dia" lagi.
Mungkin karna kamu dan dia sahabatan, jadi kalian mirip (?)  

Aku belajar banyak hal dari hubunganku yang dulu dengan "dia", dan aku jadi se-peka itu untuk tau aku GA nyaman sama kamu.

Bulan demi bulan berlalu, dan aku yang kebiasa curhat ke kamu, susah untuk lepas dari kebiasaan itu. 
Bulan demi bulan berlalu, dan aku masih mencoba lepas bergantung sama kamu. 
Aku masih sama kok, aku masih sering sedih karna ini itu, tapi aku berusaha untuk lampiasin emosi itu ke hal lain supaya ga menetap. Ada banyak wadah yang bisa aku curahin semuanya, blog, diary, adik, "temen cewe", dan juga baca al-quran.

Sampai akhirnya kamu hubungin aku, 
Dan aku baru tau kalau kamu udah punya pacar. 
Menurutmu aku sedih atau seneng? 
AKU SENENG! 
Rasanya lega, 
Orang yang selama ini buat aku merasa bersalah karna gabisa aku balas, pada akhirnya pergi dengan sendirinya tanpa harus aku sakiti terlebih dahulu. 

Rasanya ingin aku ikat kamu bersama pacarmu, agar kamu tetap disitu. Jangan balik ke arah aku. Tetep disana.
Aku lihat semua foto kamu dan pacarmu itu, alhamdulillah.. bukan aku yang jadi pacarmu. Aku bukan tipe orang yang bisa foto dengan gaya seperti itu, dan ga akan pernah mau untuk seperti itu demi kamu. Aku ga akan bisa sedeket itu ke kamu, ga akan pernah mau berusaha untuk sedeket itu. 

Sudah? semoga kamu membaca, dan mengerti. Semoga ga gagal paham seperti apa yang biasa kamu lakukan. 
Itu adalah sudut pandangku tentangmu selama ini, 
Maaf, kalau perkiraanku tentangmu ternyata berlebihan, atau ada yang salah. Makasih udah jadi orang yang tau "beberapa" kekurangan dan bahkan tau kesalahanku yang lalu-lalu; tolong lupakan. 
Makasih udah mau mendengarkan telfon sampe ngantuk. Makasih udah pernah buatin tugas, dan ajarin aku rumus 5 jari pas mau ulangan. Makasih udah jadi sosok pereda nyeri disaat dia; sahabatmu itu, bikin sakit hati sesakit-sakitnya.

Maaf, kamu ga akan pernah bisa gantiin dia, bukan karna aku gabisa move on dari dia :) tapi karna aku emang gabisa suka kamu. 

Iya, aku udah jomblo 3 tahun lebih seperti yang kamu tau. Lalu, apa aku nyesel atas ini? atau mungkin aku nyesel karna ga sama kamu aja dulu biar ga jomblo terus? engga sama sekali :) . Bagi aku pacaran bukan suatu hal yang harus aku banggain, apalagi hanya untuk jadi sesuatu yang harus aku coba karna pengen lagi. 
Aku ga akan maksa diri untuk suka sama orang cuma karna aku ga pengen sendiri, ga akan maksa diri buat nerima siapapun yang ga aku suka cuma karna aku ga pengen sendiri. Semakin hari semakin ngerti kalau yang aku butuh ga hanya tempat curhat terbaik, tapi pembimbing, karna hubungan gak sesederhana tempat untuk mesra-mesraan, tapi tempat berbagi dan mengerti satu sama lain dan juga teman satu prinsip. Aku sama sekali ga menyesal menjadi pemilih, disaat aku tau aku ga sempurna, dan walaupun hal itu bakal buat aku sendiri di waktu yang lama. 

Semoga langgeng sama pacarnya, dan semoga bisa belajar arti "menyelesaikan masalah" yang SEBENARNYA di suatu hubungan, akhirnya ga cuma jadi penasihat cinta lagi. Pada akhirnya kamu tau, menjadi "dia" ga semudah menjadi sosok sahabat penasehat sepertimu dulu kan? 
Semoga bisa mempraktekan segala kedewasaanmu seperti saat memberi nasehat, ke "kehidupan nyata". 
Semoga ga cuma jadi "pacar yang baik" untuk pacarmu, tapi juga bisa jadi imam yang baik untuk dia. 
Hidup bukan cuma soal cinta dan kampus, dan organisasi. Hidup ini tentang amal ibadah haha. 
Jaga mulut, jangan sering-sering nyakitin orang sama body shaming-mu, disaat kamu nya sendiri juga ga sempurna. 
Jadi orang yang lebih "high" dalam masalah agama dibanding pacarmu. Kalau lebih ngertian cewenya, gimana mau ngebimbing. 
Jangan kata-kata aja yang digedein, tapi dilakuin. 
Jangan bangga nempel sana sini sama cewe yg bukan muhrim, kamu fikir cowo kaya gitu keren? :) 
Bimbing pacarmu ke arah yang baik, jangan disesatin.

Please, jangan berubah menjadi baik, dan mengumbar kebaikan berlebihan hanya karna mau impress orang lain, itu terlalu childish. Semoga bisa berkembang sesuai usia yang seharusnya. Semoga bisa menjadi yang  lebih baik karna memang "itu yang seharusnya manusia lakukan". Dan.. hubunganmu dengan Tuhanmu, bukan sesuatu yang pantas untuk kamu umbar-umbar juga. Agama itu bukan "cuma" soal kewajiban, tapi juga soal cinta. Cintai Tuhanmu lebih dari apapun. Ini bukan semata tentang kewajiban yang kamu selesaikan, tapi soal bagaimana kamu hidup dan berprilaku sesuai agamamu.

Dan terakhir, pada akhirnya aku bisa mengerti diriku sendiri,
Semaksimal yang aku rasa tentangmu hanya sekadar aku suka kamu, sebagai temen. Aku ga pernah sayang sama kamu, sedikitpun. Dan tentang seberapa berartinya sosok "dia" DULU di mataku, sekalipun besarnya rasa sayang itu aku bagi dua,  peranmu sama sekali tidak pernah mampu mencapai itu.

Udah itu aja,
Jangan emosi baca ini,
Jangan tersinggung,
Wolesin aja,
Ya :) 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar