Samar-samar

By aninditaibrahim - 12/18/2018 07:54:00 AM

Untuk sang penulis

Penulis? Entah harus kunamai seperti apa. Karna hanya dari tulisan yang bisa buat ku mengenal detail-mu

Atau mungkin sang penyamar? Karna ingin mu untuk kuketahui secara samar-samar.

Sang penyamar,
Biar aku ceritakan sedikit tentang ku,

Perkenalkan, aku Anin.



Baik,

Sebenarnya aku benci memaparkan diri. Aku selalu merasa orang lain tidak berhak tau banyak hal, kecuali untuk beberapa dari mereka yang ku-percaya-i.


Memperlihatkan bahagia dan juga segala hal yang menyenangkan, bukanlah maksudku untuk menutupi kejamnya dunia, juga bukan sebagai tempat pelarian sedihku.
Hanya sekedar ingin terlihat positif, agar yang melihatnya merasakan hal yang sama. Juga sama seperti manusia pada umumnya, yang benci terlihat lemah dan serba kurang.

Hidup yang dirasa sulit, dan segala sesuatu yang terlihat menyedihkan, bukanlah konsumsi yang layak untuk ku-pamerkan publik. 
Senyum, tawa,  dan juga segala hal yang bisa buat orang lain tersenyum, adalah standar terendah dari syarat unjuk diriku di sana, dunia dengan ribuan pengikut itu. 
Tapi siapa sangka, cara seperti itu justru melahirkan sudut pandang baru, membuat ku sang penganutnya terlihat tanpa cacat.

Kutunjukan bahagia, perlihatkan segala yang terbaik dari versiku, segala momen terbaik, satu dari puluhan hal terbaik yang ku saring agar tampak lebih baik lagi, lalu kutambahi kata-kata singkat terbaik untuk dibaca. Kutunjukan hasil usaha ku yang hanya dilihatnya 15 detik di mata mereka, di saat beberapa proses berjalan selama puluhan kali lipatnya, mungkin lebih. Sekilas tampak hebat, dan penuh pujian.  Sudah, hanya itu, lalu setelah 1 hari berlalu, mereka lupakan.

Segalanya terjadi berulang, menimbulkan spekulasi manusia sempurna.
Sudut pandang mu dan mereka hanya sebatas itu, 
tentangku.

Sang penulis, penyamar, atau siapapun nama mu,
Terima kasih sudah berekspektasi yang baik, walaupun kenyataannya aku jauh di luar itu.
Dan juga atas emosi sesaatmu yang buat diri ini seakan-akan ‘berarti’.
Juga atas hari-hari penasaran yang dihadirkan, buatku bingung mengapa ini cukup penting untuk kufikirkan. 
Juga atas pengabaian yang 'kau kira'. Aku sangat memperhatikan segalanya, salah satu yang terpeka dari kumpulan manusia peka di dunia. Dalam hal-hal kecil yang kuterima, baik dalam bentuk ekspresi, kalimat, apalagi hal lebih berarti yang telah kau lakukan. Kuteliti segalanya dengan baik tanpa kau sadari, kuteliti dirimu dan cara fikirmu. Tanpa kuyakini apa spekulasiku benar atau tidak, karna sudut pandangku tentangmu hanya se-kotak itu. 

Kita sama. Sama-sama orang yang suka berspekulasi tanpa sumber yang valid. 



Jadi, 
Mohon maaf atas penyesalanmu terhadap usahamu untukku, 
maaf atas kekurangan tersembunyiku, yang mungkin telah kau sadari sejak lalu tanpa kau mau menerimanya. 

Semoga aku, kamu, dapat lebih bijak dalam mengenali dan menentukan pilihan. 

Juga diri ini, semoga lebih bijak lagi mengekspresikan diri di dunia, tanpa harus membuat mereka dan beberapa orang sepertimu salah paham dan kecewa. Tanpa harus membuat orang merasa tertipu.

Selamat menghilang, untuk kamu yang bahkan tidak pernah datang.
Yang bahkan sudah menghilang sebelum kuucapkan, 'selamat menghilang'.
Untuk yang kesekian kalinya kusampaikan pada orang sebelum, dan (mungkin) setelahmu,
Untukmu,
Semoga bahagia dan menemukan yang lebih baik. Jika sudah, semoga bisa jadi lebih bahagia lagi dengan yang lebih baik itu

Terakhir,

Semoga belum terlambat,
Terima kasih

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar