Recent
Aku muncul lagi di blog ini di usiaku yang sudah 28 tahun.
Banyak kesadaran-kesadaran diri yang baru tertanam di tahun kemarin dan tahun ini, dan juga banyak peristiwa yang sudah dilewati.
Salah satu hal yang tidak pernah aku bayangkan terjadi di hidupku, diselingkuhi dengan tidur dengan wanita lain lebih dari satu oleh laki-laki yang aku yakin akan jadi suamiku kelak. Juga dibohongi berkali-kali perihal masalah keuangannya. Semua jatah kesabaran dan belas kasihanku habis tak tersisa dimakannya. Tapi, aku memilih bertahan dan memaafkan..
Kini aku pupus dengan harapan pernikahan yang bahagia di usiaku dan tahun demi tahun kedepannya. Aku menyerah dengan pernikahan dengan keluarga yang sempurna, seorang suami yang menyelamatkanku dari hidupku sendiri. Aku rasa bayangan yang harus kuhadapi adalah menjadi sosok wanita tangguh seperti mamaku kelak. Pupus sudah harapanku merasa dilindungi, dibelaskasihi, dan dipenuhi oleh pasanganku kelak. Rasanya seperti aku memang ditakdirkan seperti itu, mau sekeras apapun aku berusaha mencari yang baik..
Mungkin yang aku inginkan sebenarnya ada di dunia, tapi tidak bisa kutemui, atau bukan aku yang mereka mau, atau mereka mungkin kutemui namun membuatku mual di fase pertemuan awal. Seperti takdir mendorongku, untuk tidak selera dengan yang kuiingankan, dan buatku jatuh mati-matian dengan apa yang sama persis seperti selera mamaku. Memang mungkin buah jatuh sepohonnya, atau ini kutukan keluarga?
Aku berjalan menyusuri hari-hari dengannya dengan jiwa yang hampa. Aku ingin ditemani, tapi aku tidak ingin sampai ketujuan bersama dia. Seperti lelaki brengsek diluaran sana, aku ingin ditemani di jalan sambil mencari teman yang baru, lalu saat kutemui yang baru, kutinggalkan teman lamaku di jalan, atau mungkin aku berharap dia di jalan dapatkan teman lain juga? Agar aku tidak terkesan jahat di ceritanya, walaupun sebenarnya dialah penjahat aslinya.
Tapi, aku tidak yakin hal itu bisa terjadi padaku. Bahkah aku tidak yakin mendapatkan teman lain di tengah jalan yang tiba-tiba menghampiriku saat aku sibuk berjalan bergandeng tangan dengan pria pupus harapan ini.

0 komentar